| Komputer Sedang Berganti Rupa |  | 01/07/2009 08:33:13 Setelah PC lahir ke dunia ini kira-kira tahun 1980-an lalu, sempat mengalami kelesuan pada tahun 2005. Hal itu disebabkan karena banyak hal, baik resesi di berbagai belahan du-nia, bencana alam di mana-mana, hingga pertikaian politik antarbeberapa negara. Namun tidak tertutup kemungkinan, justru industri komputer sendiri lah yang bertanggung jawab terhadap melambannya penjualan komputer. Mengapa demikian? Ya, karena perangkat komputer sepertinya tidak mengalami perkembangan lagi. Pabrikan komputer tidak membuat komputer yang inovatif. Bentuk komputer, baik PC, maupun notebook, sepertinya cuma begitu-begitu saja. Kalau PC ya kotak besar, berdiri, kalau ditaruh di meja, seperti ada tembok baru yang menutupi pemakainya dari lingkungan sekitarnya. Kalau notebook ya kotak hitam, ditidurkan di atas meja. Praktis, perkembangan komputer hanya mengandalkan pada kemampuan prosesor saja. Beberapa pabrikan memang sudah mencoba untuk membuat variasi baru, terutama dari sisi bentuk. Lihat saja misalnya Samsung dan Microsoft mencoba mengembangkan komputer mungil yang disebut Ultra Mobile PC (UMPC). Komputer yang diberi kode Origami ini seukuran telapak tangan dan dengan keyboard virtual di layar. Sistem operasinya memakai MS Windows XP. Wibrain, pabrikan dari Korea Selatan, juga membuat komputer serupa, namun ada separuh keyboard di sisi kiri dan sisanya di sisi kanan, dengan layar di bagian tengah. Namun tanggapan pasar agaknya tidak menggembirakan, bahkan hingga kini. Netbook yang Mungil Namun sejak dikenalkannya EeePC kira-kira tahun 2006 yang lalu, sebuah notebook berukuran mungil yang saat itu menggunakan layar berukuran 8 inci, agaknya masyarakat mulai berminat dengan komputer bentuk baru. Bila dibandingkan dengan notebook yang rata-rata layarnya berukuran 11-13 inci, EeePC terlihat sangat mungil. Sudah begitu, harga yang dipatok pun sangat bersahabat, sekitar Rp 3 jutaan. Tak pelak lagi, EeePC yang sebelumnya tidak punya nama di dunia komputer, tiba-tiba menjadi trend setter, karena laris manis. Tidak mengherankan kalau sekarang hampir semua merek sudah mengeluarkan komputer mungil yang disebut dengan netbook ini. Layar yang 8 inci memang kurang nyaman dipandang terlalu lama, apalagi untuk pekerjaan serius. Demikian pula dengan keyboardnya yang diperkecil dari ukuran standar, menyulitkan pemakainya. Akhirnya kini netbook berkembang lagi menjadi rata-rata berukuran 10 inci. Dengan ukuran seluas ini, keyboard dapat dirancang sesuai dengan ukuran aslinya, sehingga pemakainya tidak perlu beradaptasi lagi. Perkembangan notebook dan netbook akhirnya dapat menyaingi penjualan desktop PC, karena harganya sudah hampir sama. Hal ini didorong oleh perkembangan prosesor Intel Atom yang tidak boros listrik, berukuran kecil, dan tidak memproduksi panas yang berlebihan. Itulah sebabnya baterai komputer netbook dapat bertahan antara 4-6 jam! Bandingkan dengan baterai notebook yang hanya mampu bertahan paling lama 2 jam. Kemampuan prosesor Atom memang kalah dibanding prosesor ‘masa kini’ seperti Core2Duo atau Sempron. Namun untuk pemakaian sehari-hari, terutama aplikasi Office dan Internet dan game sederhana, prosesor Atom sudah sangat mencukupi. Faktor lain yang membuat netbook laris manis adalah memiliki kemampuan Wi-Fi, ada tiga slot USB, dan ada colokan ke proyektor LCD. Selain itu harddisk dengan kemampuan 160 GB menjadi daya tarik tersendiri. Sedangkan alternatif harddisk yaitu Solid State Disk (SSD) masih ditakuti konsumen, karena dengan harga yang sama dengan harddisk, hanya didapat kapasitas sebesar 4 hingga 8 GB, yang hanya 5% dari harddisk! Sebenarnya upaya pabrikan untuk membuat komputer yang aneh-aneh tidak berhenti sampai di situ. Kira-kira tahun 2000-an, Psion yang terkenal dengan produk-produk komputer saku, sudah mengenalkan Psion Revo, sebuah komputer mungil seukuran kaset video VHS. Sayangnya, prosesor yang digunakan tidak sebanding dengan prosesor ëkomputer biasaí dan saat itu belum ada teknologi USB dan bluetooth, sehingga merepotkan bagi penggunanya untuk bertukar file. Kini beberapa pabrikan mencoba mengenalkan komputer dengan bentuk komputer mungil lainnya, seperti yang dilakukan oleh Lenovo dan Sony. Komputer ini berukuran separoh ukuran notebook biasa, yaitu seperti notebook biasa yang dipotong melintang di bagian tengahnya. Ukuran lebar layarnya sama dengan layar notebook 11 inci, namun tingginya hanya sekitar 4-6 inci. Lihat saja Sony Vaio VGN P13H yang dapat dimasukkan saku celana atau jas. Komputer ini sangat ringan, karena hanya 350 gram. Bandingkan dengan ponsel pintar yang rata-rata berbobot 100-150 gram dan netbook 1 kg! Demikian juga dengan Lenovo Yoga yang bahkan rancangannya dibuat sangat mewah karena dibalut kulit berkualitas tinggi dan terkesan seperti dompet atau tas tangan wanita. Dengan harga kira-kira dua kali harga netbook, ‘komputer saku’ buatan Sony dan Lenovo agaknya akan laris di pasaran. Dari pengamatan di beberapa tempat, saya menjumpai Sony Vaio P13H sering kosong stoknya. Sementara itu, Lenovo Yoga memang baru akan dipasarkan pertengahan tahun ini. Perkembangan Lanjut Menurut saya, perkembangan komputer kalah jauh dibanding perkembangan ponsel. Saat ini notebook dan netbook terbaru, paling-paling hanya dilengkapi dengan kamera web dan koneksi Wi-Fi. Satu dua merek, misalnya Acer, Elovo, Fujitsu, dan MSI, sudah dilengkapi dengan slot kartu GSM 3G atau HSDPA. Coba bandingkan dengan kemampuan ponsel yang rata-rata sudah memiliki kamera hingga 3-8 MP, ada radio dan televisi, ada penentu lokasi GPS, kemampuan komunikasi push-to-talk, selain ada koneksi Wi-Fi dan HSDPA. Perkembangan komputer memang sedang bergairah, namun baru sebatas pada fisiknya. Masih kita tunggu komputer dengan kemampuan yang standar seperti pada ponsel, misalnya adanya radio dan televisi. Bahkan bila memungkinkan, kemampuan-kemampuan lain yang saat ini belum ada, misalnya untuk memancarkan siaran radio atau televisi dalam lingkungan terbatas, dan sebagainya. Mungkinkah komputer impian itu lahir di Indonesia? (Wing Wahyu Winarno)-g |
|  | |
|  | |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar