HARYOTO JALUR DUA SUNGAILIAT

Rabu, 01 Juli 2009

Ketika Bersedekah Menjadi Menakutkan

Kamis, 02 Juli 2009 pukul 01:33:00

Ketika Bersedekah Menjadi Menakutkan


Bersedekah seharusnya menjadi ibadah yang menyenangkan. Namun, hal itu tak bisa dinikmati sebagian umat Islam di Amerika Serikat (AS). Saat ini, sebagian umat Islam di negeri Paman Sam mulai cemas, takut, bahkan tak mau lagi bersedekah. Apa pasal? Mereka tak mau lagi bersedekah, lantaran khawatir dituding dan dijerat hukum, karena dianggap telah membantu aktivitas terorisme.

Perserikatan Kebebasan Sipil Amerika (ACLU), sebuah organisasi Islam, mengungkapkan, pemberlakuan undang-undang tentang pendanaan terorisme telah memberi efek menakutkan bagi umat Muslim dan lembaga bantuan kemanusiaan milik umat Islam di negeri adidaya itu.

ACLU mengatakan, kewenangan Departemen Keuangan untuk menginvestigasi jaringan keuangan-terorisme di awal pascatragedi WTC 11 September sangat berlebihan. Otoritas itu telah memberi kekuasaan 'tanpa batas' terhadap para agen. Para agen tampak kian sewenang-wenang menunjuk atau memvonis sebuah organisasi kemanusiaan sebagai organisasi teroris.

''Hal itu telah menciptakan 'iklim ketakutan' bagi komunitas Muslim,'' tutur ACLU dalam pernyataan resminya. Berdasarkan hasil dari 100 wawancara dengan pemuka komunitas Muslim, ACLU menyimpulkan terdapat empat keluhan utama yang dialami umat Islam di Amerika.

Pertama, Departemen Keuangan AS yang beroperasi di bawah hukum keuangan-terorisme "terlalu berlebihan". Kedua, Biro Penyelidik Federal (FBI) telah menjadikan donor-donor utama di sejumlah yayasan Muslim sebagai target. FBI bahkan mendekati dan memata-matai para penyumbang di tempat kerja hingga di rumah mereka.

Umat Islam yang bersedekah telah diinterogasi dan ditanya mengenai sumbangan yang mereka berikan. Isu lainnya, saat ini tengah dilakukan pembekuan yayasan dan aset yayasan. Petugas penegak hukum menolak untuk memastikan apakah dana-dana tersebut akan diaktifkan lagi, bila organisasi bantuan dibekukan oleh pemerintah selama investigasi.

Keempat, penegak hukum lokal dan federal telah menggunakan anggota masyarakat setempat sebagai informan, untuk memata-matai umat Islam yang beribadah dan menyumbang masjid. Para penyusup itu memonitor kegiatan donasi. FBI hingga kini menyatakan tidak akan berhenti memata-matai masjid.

"Ini benar-benar telah membatasi kemampuan kami untuk memenuhi kewajiban keagamaan," ujar Shakeel Syed, direktur eksekutif Dewan Islami Syura di California Selatan. "Saya tetap akan bersedekah, titik. Bersedekah adalah keyakinan saya, ini sama penting seperti bernapas sehingga tidak ada pilihan bagi saya untuk tidak memberi."

Menurut Shakeel, pemeriksaan ketat dan mendetail telah memaksa sebagian pendonor besar--yang kerap menyumbang 10 ribu dolar atau lebih--untuk mendistribusikan sedekah mereka ke dalam beberapa donasi berjumlah kecil-kecil. Pemuka Muslim lain juga mengakui peningkatan pemeriksaan ketat telah membuat beberapa lembaga Muslim mengetatkan pula aturan donasi mereka.

Sementara itu, tekanan pemerintah juga membuat pendonor Muslim menghindari yayasan Muslim. Alih-alih memilih mendonasikan ke yayasan, mereka menyumbang ke lembaga nirlaba minus kontroversi, seperti rumah sakit dan program pemerintah, seperti USAID, dan berpartner dengan yayasan Katholik atau Mormon.

"Itu masalahnya, bila semua dari kita menghindar memberi kepada anak yatim di Palestina dan Irak, siapa yang akan peduli dengan anak-anak tersebut," ujar direktur eksekutif Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), kawasan California Selatan, Hussam Ayloush. "Apakah mereka tidak layak disebut manusia yang perlu dibantu?"

Kondisi itu tentu sangat memprihatinkan. Padahal, pemerintahan Barack Obama berjanji akan membangun hubungan baru dengan dunia Islam. Seharusnya, Pemerintah AS mengubah kebijakan dalam negerinya yang masih paranoid terhadap Islam. itz/ocregister/hri

(-)
Index Koran

Berita sebelumnya :

Tidak ada komentar: